Detil Jurnal

Vol. 27 No. 3, Halaman 98-149

July 2, 2008
Cover

Prevalensi extended spectrum beta-lactamase pada Klebsiella pneumoniae

Oleh Elly Herwana*a, Yenny*, Laurentia Pudjiadi*, Julius E. Surjawidjaja**, and Murad Lesmana**

Kecenderungan peningkatan penggunaan antibiotika yang semakin irasional memicu peningkatan masalah resistensi kuman terhadap antibiotika. Kuman membentuk enzim Beta-laktamase yang merusak cincin beta-laktam dan menimbulkan resistensi terhadap antibiotika golongan beta-laktam seperti amoksilin. Extended-spectrum beta lactamase (ESBL) merupakan perluasan spektrum beta-laktamase yang dihasilkan oleh kelompok enzim di dalam plasmid yang memiliki kemampuan untuk menghidrolisis antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga sehingga menimbulkan masalah resistensi terhadap antibiotika seperti cefotaxim, ceftazidim, ceftriaxon, dan golongan monobaktam seperti aztreonam. Enzim ESBL dijumpai predominan pada Klebsiella spp., Escherichia coli, dan pada anggota famili Enterobacteriaceae yang lain. Studi ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi resistensi kuman Klebsiella terhadap antibiotika golongan sefalosporin dan prevalensi kuman yang membentuk ESBL. Sebanyak 65 isolat klinis Klebsiella diuji dalam penelitian ini. Deteksi resistensi kuman terhadap antibiotika dilakukan dengan metode disk diffusion dari Kirby Bauer, sedangkan untuk mendeteksi ESBL dilakukan pengujian dengan metode double-disk synergy test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18,5% isolat resisten terhadap seftazidim dan sefixim, 13,9% resisten terhadap seftriaxon, dan 23,1% resisten terhadap aztreonam . Pengujian lebih lanjut dari Klebsiella yang resisten menunjukkan hasil positif ESBL terhadap seftazidim pada 33,3%, terhadap cefixime pada 38,5%, terhadap ceftriaxon pada 30%, dan terhadap aztreonam pada 46,7%.

Kata Kunci: ESBL. Klebsiella, antibiotika


Bahasa : English



PERUBAHAN HISTOLOGI Perubahan histology gastre tikus akibat pajanan jangka pendek formaldehid

Oleh David*a, and Hanslavina Arkeman*
Formaldehid digunakan pada produksi plywood, papan kayu, bahan-bahan yang menggunakan plastik, dan pembuatan kadaver. Formaldehid dapat menguap dan larut dalam air, aseton, benzene, kloroform, dietil eter, dan etanol. Banyak studi membuktikan uap formaldehid dapat menimbulkan gejala-gejala klinik seperti iritasi tenggorokan, mata, kulit, dan hidung. Pada studi jangka lama pada tikus yang dipajan formaldehid dalam air minum, meningkatkan insiden papiloma gaster. Studi ini dilakukan untuk melihat perubahan histopatologi pada jaringan ikat gaster tikus yang terpajan formaldehid selama 12 minggu. Experimental posttest only control group design dilakukan pada 30 tikus dewasa galur Sprague-Dawley dengan berat 150 – 200 gram. Hewan coba diacak dan dibagi menjadi 3 grup, yaitu grup kontrol, grup yang terpajan formaldehid 4 mg/lt, dan grup yang terpajan formaldehid 6 mg/lt. Hasil studi memperlihatkan adanya perbedaan signifikan pada ketebalan tunika mukosa fundus gaster antara grup kontrol dan grup yang terpajan formaldehid 6 mg/lt (p= 0,011), perbedaan signifikan pada ketebalan tunika mukosa fundus gaster antara grup yang terpajan formaldehid 4 mg/lt dan 6 mg/lt (p = 0,003), memperlihatkan adanya nekrosis jaringan permukaan tunika mukosa yang disebabkan konsentrasi formaldehid yang lebih besar. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada ketebalan tunika mukosa fundus gaster antara grup kontrol dan grup yang terpajan formaldehid 4 mg/lt (p = 0,621), menunjukkan tidak adanya nekrosis yang bermakna pada jaringan permukaan tunika mukosa fundus gaster yang terpajan formaldehid dengan konsentrasi rendah. Pada sedian histologi seluruh grup, terlihat perubahan yang sama pada kedua grup yang terpajan formaldehid berupa degenerasi vakuolar (hidropik) pada kelenjar fundus gaster.
Bahasa : English



Gender differences in nutritional intake and status in healthy free-living elderly

Oleh Rina K.Kusumaratna

Malnourishment in the older population is reported to be a consequence of inadequate food intake, underlying diseases, with females being at higher risk and economically more vulnerable. The objective of this study were to determine the patterns of gender differences in nutritional intake and status among free-living elderly in the Jakarta urban area. A cross sectional design was performed on free-living elderly people aged 60 years and older in South Jakarta. A total of 298 free-living elderly were interviewed on demography and social economic status, and assessed on anthropometric measures, two-day nonconsecutive dietary recall and biochemical indices using fasting blood samples. This study showed that most significant gender differences were in daily energy and nutrient intakes. Males had more energy intake 1246.6 kcal compared to female 1043.1 kcal and consumed more carbohydrate 168.1 g, protein 39.7 g, total vitamin A 12229.7 mg, vitamin C 22.3 mg, iron 6.87 mg, and zinc 4.9 mg food sources. Older males had better status indices for anemia than did older females (p=0.009). Older persons who co-resided with family had better dietary nutrient intakes than those living in nuclear families, except for protein, total vitamin A and zinc food sources. There are gender differences in energy, dietary nutrient intake, nutritional status and health status in free-living elderly. Both genders were deficient in all macronutrients and selected micronutrients, especially iron and zinc.

Keywords : Gender, nutritional intake, healthy elderly


Bahasa : English



Peran teh terhadap kesehatan jantung

Oleh Fajar Arifin Gunawijaya

Teh adalah seduhan daun tanaman Camellia sinensis, sebaiknya tidak rancu dengan yang disebut ‘teh herbal’. Kandungan kimiawi aktif dalam teh mencakup flavonoids, kafein dan fluor. Telah lama diketahui bahwa minum teh dikaitkan dengan manfaatnya bagi kesehatan. Namun, penelitian-penelitian baru dilakukan sekitar 20–30 tahun yang lalu untuk membuktikan kebenarannya. Banyak penelitian pada hewan percobaan dan akhir-akhir ini makin banyak penelitian pada manusia, mencakup penelitian epidemiologik dan penelitian klinik, untuk mengetahui hubungan antara minum teh dan kesehatan. Pengamatan pada manusia menunjukkan bahwa meminum 3 cangkir teh setiap hari berkaitan dengan menurunnya risiko kematian (44%) setelah infark miokard (serangan jantung) dibandingkan pada bukan peminum teh. Perlu dilakukan penelitian dalam skala besar untuk menjawab klaim ini. Meskipun ada banyak kesimpangsiuran, dapat kita katakan bahwa minum teh aman dan berguna bagi kesehatan kita.

Kata kunci : Teh, penyakit jantung koroner, endotel


Bahasa : English



Peranan Echinacea pada tatalaksana salesma dan influensa

Oleh Yenny* and Zunilda Djanun

Selesma merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan pada orang dewasa dan anak-anak di dunia. Infeksi saluran nafas atas ini disebabkan oleh berbagai agen. Efeknya terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas juga cukup nyata. Preparat yang dibuat dari tanaman genus Echinacea banyak digunakan untuk mencegah dan mengobati selesma. Tiga spesies Echinacea yang banyak digunakan sebagai obat adalah Echinacea purpurea, Echinacea angustifolia, dan Echinacea pallida. Efek menguntungkan Echinacea disebabkan oleh aktivitas imunomudulasinya, khususnya terhadap aktivitas makrofag. Aktivasi sel-sel leukosit polimorfonuklear dan natural killer (NK) juga dapat dilihat. Banyak uji klinis termasuk yang dilakukan secara random dan tersamar memperlihatkan efek Echinacea terhadap kesehatan. Walaupun berbagai studi memperlihatkan efek yang menguntungkan, penggunan Echinacea tidak dapar direkomendasikan karena kurangnya standar produk, variasi dalam dosis, jumlah sampel yang kecil, dan kualitas metodologi yang digunakan. Oleh karena itu dibutuhkan desain studi yang baik dengan standar pengukuran yang konsisten untuk menilai efektivitas Echinacea.

Key word: Echinacea, imunomodulator, selesma, influensa


Bahasa : English



Meningioma daerah occipito-cervical pada kehamilan

Oleh Riani Indiyarti

Meningioma adalah tumor yang berasal dari sel-sel atau elemen pembuluh darah dari selaput otak (meninges), dapat tumbuh dalam ruangan intra kranial atau canalis vertebralis. Angka kejadian meningioma lebih banyak pada wanita daripada pria. Hormon seks merangsang pertumbuhan tumor, misalnya pada kehamilan atau kanker payudara. Laporan kasus ini membahas mengioma yang terjadi pada kehamilan. Seorang wanita 39 tahun, G4P3A0 hamil 8 bulan dengan gejala klinis tetraparese UMN (upper motor neuron) progresif sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, hipoestesi dermatom C2 kebawah disertai inkontinensia uri et alvi. Hasil pemeriksaan Computerized Tomography (CT) scan cervical dan otak 2 bulan sebelumnya masih dalam batas normal. Persalinan dilakukan dengan induksi dan diakhiri dengan ekstraksi forceps, berat badan bayi 2100 gram, Apgar score 7/9. Pemeriksaan Magneting Resonance Imaging (MRI) dengan kontras setelah persalinan terlihat massa tumor yang cukup luas dan menyengat kontras dengan lokasi intradural ekstramedullar di daerah occipito-cervical pada sisi kanan, yang menunjukkan meningeal tail dengan ekstensi ke fossa posterior kanan dan caudal sampai level C3 disertai dengan kompresi medulla spinalis. Dilakukan operasi reseksi tidak total, hasil patologi anatomi sesuai dengan meningioma.

Kata kunci : Meningioma, hamil


Bahasa : English





(c) 2007 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Didesain oleh PT. Rajasa Grafika