Detil Jurnal

Vol. 27 No. 1, Halaman 1-50

March 30, 2008
Cover

Efek ekstrak Dillenia suffruticosa pada dengue tipe 2 replikasi

Oleh Sylvia Y Muliawan
Teknik dua dimensi agar elektroforesis (2-DGE) secara umum merupakan prosedur terbaik pada analisis kompleks protein. Prinsip utama proteomics adalah kemampuan untuk menggabungkan porotein secara individu dengan menggunakan teknik 2-DGE yang dapat dikaitkan dengan sekuens dari gen tersebut. Pencarian dari sumber baru yang mempunyai komponen aktif secara biologi adalah penting untuk menemukan obat baru yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit. Obat yang berasal dari tanaman mempunyai sifat mudah diterima karena tidak toksik dan tidak mahal. Oleh karena itu penelitian penelitian yang berkaitan dengan tanaman terus dikembangkan. Dillenia suffruticosa (D. suffruticosa) juga dikenal sebagai Simpoh Air di Malaysia diketahui mempunyai aktifitas antibakteri dan anti jamur(1) tetapi belum ada laporan penelitian dari tanaman ini sebagai anti virus. Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan studi tentang tanaman ini dengan menggunakan ekstraknya terhadap replikasi dengue tipe 2 virus. Pada penelitian saat ini, didapatkan bahwa ekstrak D.suffruticosa mempunyai efek inhibisi terhadap dengue tipe 2 virus yang diuji pada sel C6/36 yang telah diinfeksi oleh dengue tersebut dengan memperlihatkan efek sitopatik sebagai criteria adanya infeksi dengue ini. Telah diketahui adanya hubungan antara ekspresi non structural NS1 dengan replikasi virus dengue, maka pada studi ini juga diamati pengaruh ekstrak tersebut terhadap ekspresi NS1 dengan menggunakan teknik proteomiks. Sampel yang digunakan terdiri dari dua tipe, yaitu kultur sel C6/36 yang diinfeksi dengan virus dengue tipe 2 dan kultur sel C6/36 yang tidak diinfeksi. Persiapkan ekstrak D.suffruticosa yang larut dalam air dengan pengenceran secara seri (serial dilution), yaitu 0,025, 0,05, 0,1, 0,2, 0,4 mg/ml. Kemudian ekstrak ini ditambahkan pada sel C6/36 dan di inkubasi selama 2 jam sebelum sel tersebut diinfeksi dengan virus dengue tipe 2. Pada teknik isoelectric focusing (IEF) digunakan immobilized non-linear pH gradient strips dengan pH 3-10 yang diikuti dengan Sodium dodecylsulphate-Polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE). Hasil yang diperoleh dilakukan pewarnaan dengan metode silver untuk dapat terlihat oleh mata. Ekspresi protein NS1 pada sel C6/36 yang diinfeksi oleh virus dengue tipe 2 setelah sebelumnya ditambahkan ekstrak D. suffruticosa adalah mempunyai intensitas yang menurun pada konsentrasi sebagai berikut: 0,025, 0,05, 0,1mg/ml. Sedangkan apabila konsentrasi tersebut diberi lebih tinggi, yaitu 0,2 dan 0,4 mg/ml maka terlihat intensitas ekspresi NS1 pada sel C6/36 yang diinfeksi virus dengue tipe 2 sedikit menurun dibandingkan dengan pada saat diberi konsentrasi yang tersebut diatas (0,025, 0,05, 0,1 mg/ml). Dari hasil yang diperoleh memperlihatkan efek inhibisis dari ekstrak D. suffruticosa terhadap virus dengue tipe 2. Berdasarkan hasil tersebut, maka ekspresi non structural NS1 dengan teknik proteomiks dapat digunakan sebagai parameter untuk mengevaluasi suatu agen anti virus pada replikasi atau infeksi virus dengue tipe 2. Kata kunci: Ekstrak Dillenia suffruticosa, virus dengue tipe 2, proteomiks
Bahasa : English



Lingkar pinggang sebagai prediktor tingkat glukosa darah pada laki-laki dan perempuan usia 40 - 60 tahun

Oleh Shinta Larasati H*, Intan Nevita OB, Puspa Krisna R, and Eva Susiyanti
Anthropometric indexes such as body mass index (BMI), waist circumference (WC), hip circumference (HC), and waist hip ratio (WHR), are useful measurements to provide important information on blood glucose concentration. The aim of this study was to determine several anthropometric measurements, in particular BMI, WC, HC and WHR, in their ability to predict the blood glucose levels in men and women 40 to 60 years of age. A cross-sectional study was conducted on 44 men and 127 women aged 40 to 60 who lived in Cipete Selatan subdistrict, South Jakarta. Blood glucose levels were assessed and anthropometric indexes such as BMI, WC, HC, WHR were measured. Multiple linear regression analysis was used to determine the best predictor for blood glucose levels. The study showed that the prevalence of diabetes mellitus (DM) type 2 was 12.9% and higher in men (20.5%) than in women (10.2 %). The significant predictive variables in the simple regression analysis were age and WC. Multiple linear regression showed that after adjustment for age, WC was positively associated with blood glucose levels. Standardized b value was 0.172 (p=0.026). WC predicts blood glucose levels, beyond that explained by traditional diabetic risk factors and BMI. The findings support the recommendation that WC be a routine measure for identification of DM type 2 in men and women aged 40 to 60. Keywords: Anthropometric indexes, blood glucose levels, diabetes mellitus type 2, forty to sixty years
Bahasa : English



Effect of clean intermittent self-catheterization on urinary tract infection in subject with spinal cord injury

Oleh Maria Regina Rachmawati, Suleiman Sutanto, and Rosiana P Wirawan
Patients with spinal cord injury are often unable to empty their bladders sufficiently. If this condition is left untreated, urinary tract infection (UTI) is unavoidable, with potentially lethal consequences. The objective of this study was to evaluate the effect of clean intermittent self-catheterization (CIC) on urinary tract infection in subject with spinal cord injury. A randomized controlled design was conducted in subjects who lived at two dormitories were included in this study. They were randomized to clean intermittent self- catheterization or control group. All the subjects were followed for one months. Primary outcome measure was symptomatic urinary tract infection as diagnosed by, pyuria (leukocytes of 100,000 or more per high power field.). Twenty-six patients between 22 to 62 years with cervical spinal cord injuries and urine residue more than 50 cc were recruited. Of the 26 subjects, 18 (69.2%) developed urinary tract infection. The incidence rate of UTI in the CIC group was 5/13 (38.5%); significantly lower than the control group 11/13 (84.6%) (p=0.016). Clean intermittent self catheterization in patient with spinal cord injury decreased the risk of developing urinary tract infection. Keywords : Spinal cord injury, clean intermittent self-catheterization, urinary tract infection
Bahasa : English



Ambang bangkitan, hormon dan obat anti epilepsi

Oleh Harsono
Konsep tentang ambang bangkitan menyatakan bahwa setiap orang mempunyai keseimbangan tertentu di dalam otak, antara kekuatan pendorong (excitatory) dan penghambat (inhibitory). Ambang bangkitan rendah akan memudahkan pasien epilepsi untuk mengalami bangkitan epileptik, dan memudahkan seseorang untuk mengalami bangkitan tunggal. Estrogen memiliki sifat prokonvulsan dan progesteron bersifat sebagai antikonvulsan, keduanya berpengaruh terhadap ambang bangkitan. Estrogen menurunkan ambang bangkitan, sementara progesteron meninggikan ambang bangkitan. Obat anti-epilepsi yang menginduksi enzim P450 sitokrom hepatik dapat meningkatkan metabolisme hormon seks dan mengakibatkan kontrasepsi hormonal menjadi tidak efektif.
Kata kunci: Ambang bangkitan, hormone, obat anti-epilepsi, prokonvulsan, antikonvulsan
Bahasa : English



Peranan polyphenol pada proses terjadinya penyakit kardiovaskular

Oleh Yenny and Elly Herwana
Riset mengenai flavonoid meningkat sejak ditemukannya French Paradox yaitu rendahnya angka kematian penyakit kardiovaskular yang terlihat pada populasi Mediterranean terkait dengan konsumsi red wine dan tingginya intake lemak jenuh. Polyphenol tanaman (flavonoid) banyak ditemukan di alam pada buah-buahan, sayuran, dan minuman seperti teh dan wine. Studi epidemiologik menunjukkan tingginya intake polyphenol dari buah-buahan dan sayuran berhubungan dengan menurunnya risiko penyakit kardiovaskular. Mekanisme yang menerangkan observasi ini masih belum jelas. Endotel vaskular merupakan pengatur kritis dalam homeostasis vaskular, dan disfungsi endotel memberikan kontribusi pada patogenesis dan ekspresi klinis penyakit arteri koronaria. Agregasi platelet merupakan mekanisme utama di dalam patogenesis sindrom koronaria akut termasuk infark miokardial, dan angina yang tidak stabil (unstable angina). Data menunjukkan bahwa polyphenol tanaman dapat memperbaiki disfungsi endotel dan menghambat agregasi platelet pada manusia. Kata kunci: polyphenol, flavonoid, kardiovaskular
Bahasa : English



Stroke iskemik pada usia muda sebagai manifestasi dari arteritis Takayasu

Oleh Riani Indiyarti
Seorang laki-laki berusia 20 tahun menderita stroke iskemik usia muda disebabkan arteritis Takayasu. Penyakit arteritis Takayasu telah menyerang sejak usia anak (10 tahun), menimbulkan aneurisma Aorta Abdominalis dan stenosis A. Renalis yang mengakibatkan terjadinya hipertensi renovaskular. Terjadi stroke iskemik usia muda karena arteritis Takayasu yang menyebabkan stenosis Arteri Cerebri Anterior kiri dan Arteri Cerebri Media kiri, ditambah dengan faktor risiko hipertensi renovaskular. Pada pasien dilakukan tindakan stenting (PTA : Percutaneus Transluminal Angioplasty) pada A. Renalis kanan dan direncanakan tindakan operasi bypass arteri extra-intrakranial. Perlu dilakukan pencegahan agar proses arteritis tidak berlanjut lagi pada pembuluh darah yang lain. Kata kunci : stroke iskemik usia muda, arteritis Takayasu, hipertensi renovaskular
Bahasa : English





(c) 2007 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Didesain oleh PT. Rajasa Grafika