Detil Jurnal

Vol. 24 No. 4, Halaman 151-200

October 1, 2005
Cover_okt-des_2005

Perkembangan mutakhir terapi tumor ganas payudara

Oleh Azwardi Roezin
Dalam 15 tahun terakhir terjadi perkembangan pesat di bidang genetika dan obat anti tumor ganas dalam terapi tumor ganas payudara ganas. Berbagai faktor biologis, risiko dan prognostik telah diidentifikasi. Metode diagnostik dan terapeutik telah berkembang secara pesat sehingga mortalitas dan risiko tumor ganas payudara telah menurun termasuk pada perempuan dengan tumor ganas payudara terminal. Hampir semua pasien dengan tumor ganas payudara primer dapat diberikan terapi konservasi payudara bersama terapi tambahan dengan hormon dan kemoterapi untuk memperpanjang kelangsungan hidup pasien. Klinikus harus memilih regimen  golongan taxan  untuk penderita keganasan payudara dengan pertimbangan jadwal dosis, farmakokinetik dan aktifitas kliniknya sudah dketahui. Pada saat  ini profil farmakokinetik, hasil klinik positif yang konsisten dan jadwal pemberian infus yang singkat menjadikan docetaxel sebagai pilihan untuk  mengobati penderita tumor ganas payudara. Prevensi/profilaksis dapat dilakukan dan obat baru yang efektif dengan efek samping yang berkurang sedang dikembangkan.

Kata kunci : Tumor ganas payudara, terapi konservasi

Bahasa : Indonesia



Efek schizandrine C terhadap kerusakan hati akibat pemberian parasetamol pada tikus

Oleh Yenny, Elly Herwana, Wirasmi Marwoto, Rianto Setiabudy
Schizandreae Chinensis (Schizandrine C) atau biasa dikenal dengan sebutan Chinese Magnolia, sudah lama dipakai sebagai obat tradisional di Cina. Schizandrine C diinformasikan dapat juga mengurangi efek hepatotoksik dan karsinogenik yang disebabkan beberapa obat seperti parasetamol, karbon tetraklorida dan substansi toksik lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek pemberian Schizandrine C terhadap kerusakan hati akibat pemberian tunggal parasetamol dosis besar pada tikus. Sebanyak 55 ekor tikus putih jantan galur Sprague-dawley secara acak dibagi dalam 5 kelompok perlakuan untuk menerima karboksimetilselulose (CMC) 0,5%, parasetamol, parasetamol plus schizandrine C, parasetamol plus schizandrine C dosis tinggi dan parasetamol plus N-asetilsistein. Hasil penelitian menunjukkan, dibandingkan kelompok parasetamol plus N-asetilsistein didapatkan kerusakan hati derajat 3 lebih banyak pada pada kelompok parasetamol (82%), parasetamol plus schizandrine C dosis tinggi (82%) dan parasetamol dosis terapeutik (64%) (p < 0,001). Temuan studi ini mendapatkan Schizandrine C tidak efektif untuk mencegah kerusakan hati yang diinduksi oleh pemberian parasetamol dosis berlebih

Kata kunci : Schizandrine C, hati, proteksi, parasetamol, tikus

Bahasa : Indonesia



Efek analgesik dan anti-inflamasi dari bromelain pada mencit dan tikus

Oleh Sri Agus Sudjarwo
Bromelain merupakan ekstrak cairan yang diperoleh dari batang dan buah tumbuhan nanas yang mengandung beberapa enzim proteolitik. Telah diteliti aktivitas analgesik dan anti-inflamasi dari bromelain. Efek anti-inflamasi bromelain dievaluasi pada udem telapak kaki tikus yang disebabkan oleh karagen. Aktivitas analgesik diuji pada geliatan yang disebabkan oleh asam asetat, dan metode lempeng panas pada mencit. Duapuluh ekor mencit jantan balb/c (20-25 g) digunakan untuk menilai efek analgesik. Dan 20 ekor tikus jantan Sprague-Dawley (200-250 g) digunakan untuk menguji aktifitas anti-inflamasi. Hasil penelitian menunjukkan bromelain dosis 10, 20 and 40 mg/kg menunjukkan hambatan pada udem telapak kaki tikus sebesar 11,3; 45,1 and 56,3% berturut-turut pada 3 jam terakhir, dan persentase proteksi pada geliatan tikus adalah 11,1; 23,4 dan 40,8% berturut-turut. Pada lempengan panas, bromelain 20 and 40 mg/kg meningkatkan ambang nyeri secara bermakna setelah 30 menit, 1, 2 dan 4 jam dari pemberian. Pada semua model penelitian menunjukkan bahwa efek dari bromelain tergantung pada dosis. Study ini membuktikan bahwa bromelain mempunyai efek anti-inflamasi dan analgesik.

Kata kunci : Bromelain, analgesik, anti-inflamasi, mencit, tikus

Bahasa : English



Avian influenza : profil dan penularannya pada manusia

Oleh Widyasari Kumala
Avian influenza atau flu burung adalah penyakit menular yang disebabkan virus avian influenza A dengan subtipe H1 sampai H16 dan N1 sampai N9. Virus ini menyerang berbagai jenis unggas, meliputi ayam, kalkun, unggas air, burung peliharaan dan burung liar. Terakhir virus ini dapat menginfeksi babi, harimau, kucing dan macan tutul. Pada umumnya virus avian influenza A tidak menyerang manusia, tetapi subtipe tertentu seperti H5N1, H7N7 yang bersifat sangat patogen dapat menyerang manusia dan mengakibatkan kematian. Terdapat beberapa cara penularan virus avian influenza A dari spesies unggas ke manusia antara lain melalui kontak lansung maupun tidak langsung dengan unggas yang sakit termasuk air liur dan tinja, udara dan alat alat peternakan yang terkontaminasi dengan virus avian influenza. Saat ini pengobatan dengan oseltamivir dan zanamivir masih memberikan hasil yang baik terhadap virus avian influenza A H5N1. Meskipun berbagai aspek penyakit ini telah diketahui, tetapi masih terdapat bagian yang belum terungkap seperti pengembangan vaksin. Hingga kini belum ada vaksin yang dapat mencegah penyakit flu burung pada manusia.

Kata kunci : Avian influenza, penularan, vaksin

Bahasa : Indonesia



Pengaruh suplementasi zat besi satu dan dua kali per minggu terhadap kadar hemoglobin pada siswi yang menderita anemia

Oleh Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq, Sri Nurjuaida
Kelompok remaja putri merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap anemia padahal mereka merupakan sumber daya manusia yang harus dilindungi karena potensinya yang sangat besar dalam upaya pembangunan kualitas bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh suplementasi TTD satu kali per minggu dan dua kali per minggu terhadap kenaikan kadar hemoglobin (Hb) siswi penderita anemia yang sudah menstruasi di SLTP Kota Tangerang. Disain penelitian adalah non-blinded randomized experiment. Subyek penelitian dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan suplementasi TTD satu kali per minggu (40 orang) dan dua kali per minggu (38 orang). Pemberian suplementasi TTD diminum di depan peneliti diberikan selama 11 minggu. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan kenaikan kadar Hb yang bermakna antara kedua kelompok intervensi tersebut (p=0,31). Rata-rata kenaikan kadar Hb siswi yang diberikan suplementasi 1 kali per minggu adalah sebesar 2,20 g/dl sedangkan yang diberikan suplementasi 2 kali per minggu sebesar 2,28 g/dl. Dengan demikian intervensi pemberian suplementasi zat besi, disertai dengan memonitor konsumsi TTD, dapat diberikan cukup satu kali per minggu karena hasilnya terhadap kenaikan kadar Hb tidak berbeda dengan pemberian suplementasi TTD dua kali per minggu .

Kata kunci : Zat besi, defisiensi, suplementasi, anemia, remaja

Bahasa : Indonesia



Profil lipid pada penduduk lanjut usia di Jakarta

Oleh Rita Khairani, Mieke Sumiera
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyebab kematian utama pada pasien di atas usia 65 tahun. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kadar kolesterol total yang tinggi menjadi faktor penting untuk timbulnya PJK. Dengan mengetahui profil lipid pada lanjut usia (lansia), maka strategi penurunan lipid dapat segera dijalankan untuk menurunkan risiko terjadinya PJK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil lipid pada penduduk lansia di DKI Jakarta. Penelitian potong lintang dilakukan terhadap 307 lansia di 15 kelurahan di Jakarta melalui wawancara terstruktur, pemeriksaan fisik, antropometri dan profil lipid. Hasil profil lipid dikelompokkan dengan menggunakan kriteria dari National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III. Pemeriksaan kadar lipid meliputi kolesterol total, low density lipoprotein (LDL) kolesterol, high density lipoprotein (HDL) kolesterol, dan trigliserida. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh lansia (55,4%) mempunyai kadar lipid normal, dan kadar kolesterol total yang tinggi (≥ 240 mg/dl) ditemukan sebesar 23,5%. Lansia wanita mempunyai kadar kolesterol total, LDL kolesterol dan trigliserida yang lebih besar dibandingkan lansia pria, sedangkan kadar HDL kolesterol lansia wanita lebih rendah dibandingkan lansia pria. Lansia wanita berisiko 26 kali lebih besar untuk mendapatkan kolesterol total dan LDL kolesterol yang tinggi dibandingkan lansia pria.

Kata kunci : Profil, lipid, lanjut usia, risiko

Bahasa : Indonesia





(c) 2007 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Didesain oleh PT. Rajasa Grafika