Bahasa

Effect of range of motion and isometric strengthening exercises on grip strength and hand function in rheumatoid arthritis patients


In previous studies, duration of hand exercises in patients with rheumatoid arthritis (RA) had widely varying ranges, from 3 weeks to 4 months. An experimental study was conducted to evaluate the effect of range of motion (ROM) and muscle strengthening exercises for 6 weeks on grip strength and hand function in RA patients. Seventeen patients with chronic RA were randomly assigned to a treatment group and a control group. The treatment group (n=8) was given muscle strengthening exercises and heat therapy using paraffin baths 3 times a week at the hospital and ROM exercises once a day at home for 6 weeks. The control group (n=9) was given only paraffin baths 3 times a week. After 6 weeks, there were significant differences in hand function (p=0.003), right and left grip strength (p=0.000 and p=0.001) and ROM in the interventional group only. ROM and isometric strengthening exercises significantly improved grip strength and hand function in patients with RA, while no impact was found when the patients were given paraffin baths only. In view of the small size of the study population, there is a need for further studies with larger populations.

Keywords: Hand exercise, grip strength, rheumatoid arthritis

Share

Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pencapaian sasaran mutu pelayanan UGD R.S. X


Lama waktu perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD) adalah ukuran utama dari kecepatan pelayanan UGD dan merupakan petanda dari sasaran mutu. Penelitian tentang waktu untuk menilai proses pelayanan UGD dapat membantu menjelaskan sebab lamanya waktu pelayanan UGD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pelayanan pasien UGD RS Pluit. Dengan penelitian survei, yang mengambil tempat di UGD RS Pluit, dilakukan observasi 171 pasien yang ditangani selama 3 minggu berturut-turut pada periode Maret 2008. Data penting dicatat, meliputi karakteristik pasien, durasi pelayanan perawat, durasi pelayanan dokter dan durasi total layanan pasien UGD RS Pluit. Dilakukan uji Anova dan t test untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi durasi pelayanan pasien pada nilai α=0,1. Pasien berusia tua, pasien status Gawat Darurat, pasien dengan Surat Pengantar dokter, pelatihan Elektro Kardio Grafi (EKG) dokter, pelatihan Advance Cardiac Life Support (ACLS) perawat berhubungan dengan durasi total layanan pasien UGD RS Pluit. Kategori pasien dan karakteristik dokter dan perawat adalah variabel independen penting yang secara signifikan mempengaruhi durasi pelayanan UGD. Penelitian lanjutan penting untuk menentukan bagaimana hal ini dan faktor-faktor lain dapat dipakai sebagai model untuk memprediksi waktu pelayanan pasien UGD.

Kata kunci : Kecepatan pelayanan, Unit Gawat Darurat, sasaran mutu

Share

Validity and reliability of Preschool Language Scale 4 for measuring language development in children 48-59 months of age


Prevalence rates for speech and language delay have been reported across wide ranges. Speech and language delay affects 5% to 8% of preschool children, often persisting into the school years. A cross-sectional study was conducted in 208 children aged 48-59 months to determine the validity and reliability of the Indonesian edition of the Preschool Language Scale version 4 (PLS4) as a screening tool for the identification of language development disorders. Construct validity was examined by using Pearson correlation coefficient. Internal consistency was tested and repeated measurements were taken to establish the stability coefficient and intraclass correlation coefficients (ICC) for test-retest reliability. For construct validity, the Pearson correlation coefficient ranged from 0.151-0.526, indicating that all questions in this instrument were valid for measuring auditory comprehension (AC) and expressive communication skills (EC). Cronbach’s alpha level ranged from 0.81-0.95 with standard error of measurement (SEM) ranging from 3.1-3.3. Stability coefficients ranged from 0.98-.0.99 with ICC coefficient ranging from 0.97-0.99 both of which showed an excellent reliability. This study found that PLS-4 is a valid and reliable instrument. It is easy to handle and can be recommended for assessing language development in children aged 48-59 months.

Keywords : Language development, PLS4, validity, reliability

Share

Risiko thiazolidinedione dan kardiovaskular terhadap diabetes melitus tipe 2


Penyakit kardiovaskuler merupakan komplikasi yang paling umum dijumpai pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2. Pasien gagal jantung yang disertai DM mempunyai keluaran yang lebih buruk dibandingkan dengan pasien tanpa DM. Thiazolidinedione (TZD) merupakan agonis peroxisome proliferators activated receptor gamma (PPARγ) punya efek menguntungkan pada kontrol gula darah dan parameter kardiovaskuler, namun kemampuan obat ini menginduksi volume plasma perlu dipertimbangkan dalam penulisan resepnya pada pasien DM dengan risiko tinggi kardiovaskuler. Mekanisme retensi cairan akibat TZD masih belum jelas. Bukti yang ada menunjukkan peranan epithelial sodium channel (ENaC) sebagai penyebab timbulnya efek samping TZD. Makalah ini membahas mekanisme ENaC dalam menginduksi retensi cairan dan tatalaksana yang digunakan untuk mengantisipasi efek samping tersebut.

Kata kunci: thiazolidinedione, gagal jantung, DM tipe 2, ENaC

Share

Kualitas hidup pasien epilepsi


Kualitas hidup merupakan outcome penting di dalam program terapi epilepsi. Kualitas hidup pasien epilepsi cukup bervariasi, dipengaruhi oleh variabel-variabel klinik, demografik dan sosio-ekonomik. Jenis dan frekuensi bangkitan merupakan prediktor kuat terhadap skor kualitas hidup. Umur, frekuensi dan beratnya bangkitan, stigma epilepsi, kehilangan hak sosial, rasa takut dan cemas, berbagai faktor yang menimbulkan ketidakcukupan terapi, kesenjangan terapi dan kebutuhan perawatan kesehatan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien epilepsi. Perbaikan dalam hal diagnosis, terapi, pencegahan dan penerimaan sosial merupakan faktor-faktor penting dalam pencapaian tujuan manajemen epilepsi. Terapi epilepsi merujuk kepada setiap intervensi yang ditujukan kepada pengembalian status kesehatan.

Kata kunci: Kualitas hidup, epilepsi, stigma, kecemasan, kesenjangan terapi

Share

Magnetic resonance cholangiopancreatography: practical experience in 30 subjects


Magnetic resonance cholangiopancreatography (MRCP) adalah suatu metode pencitraan dari saluran bilier dan pankreas yang non invasive.Tidak diperlukan persiapan khusus tetapi tetap diberlakukan kontraindikasi yang biasa pada skening MR. Tampilan diagnostik dari MRCP pada kebanyakan penyakit saluran empedu adalah sama dengan cara yang lebih invasif dari kolangiografi direk seperti ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography). Karena cara ini adalah noninvasif maka tidak diikuti oleh risiko dan komplikasi yang menyertai ERCP. Artikel ini akan mereviu pengalaman kami pada penggunaan 30 MRCP pada 27 pasien dengan kelainan hepatopankreatobilier. Indikasi penggunaan MRCP adalah bilamana diperlukan roadmap dari saluran bilier atau pankreas dan bilamana diasumsi bahwa kemunginan adanya kelainan saluran empedu atau pankreas adalah kecil sehingga dapat dihindarkan ERCP yang tidak perlu. Indikasi terbanyak adalah skrining pasien dengan nyeri perut di kwadran kanan atas/epigastrium dengan atau tanpa ikterus dengan dugaan adanya batu koledokus atau kelainan pada d.koledokus adalah kecil (3,3% kasus). Indikasi yang lain adalah pada pasien yang ERCP nya gagal atau hasilnya tidak sempurna atau pasien menolak untuk dilakukan ERCP dilakukan pada 9 kasus (30%). Indikasi yang lain adalah sebelum dilakukan operasi biliodigestif sebagai persiapan operasi untuk merencanakan tindakan operasi apa yang akan dilakukan dan sesudah operasi untuk menilai hasil operasi tsb, hal ini dilakukan pada pada 3 kasus (10%)

Kata kunci: kolangiografi direk, ERCP, terapeutik/invasif, MRCP, diagnostik/noninvasive

Share
Search By Category