Perlemakan hati non alkoholik
Spektrum patologi klinik dari perlemakan hati non alkoholik (PHNA) terentang dari simple steatosis sampai non alkoholic steatohepatitis (NASH). Simple steatosis memiliki perjalanan klinik yang relatif jinak, namun NASH dapat berkembang ke sirosis dan karsinoma hepatoseluler. PHNA umumnya asimtomatik dan harus dicurigai pada pasien-pasien dengan obesitas abdominal dan diabetes melitus tipe 2. Peningkatan alanine aminotransferase (ALT) serum dan/atau gambaran perlemakan hati pada USG sering kali merupakan temuan pertama yang mengarahkan diagnosis ke PHNA. Diagnosis PHNA ditegakkan setelah menyingkirkan penyakit hati kronis yang lain; diagnosis definitif hanya dibuat dengan biopsi. Peningkatan ALT umumnya tidak melebihi 5 kali batas atas nilai normal. Adanya ikterus, bilirubinuria dan demam juga menyingkirkan diagnosis PHNA. Sebagian besar steatosis hepatik tidak berkembang menjadi fibrosis atau steato hepatitis, 30-40% akan menjadi fibrosis dalam periode 4 tahun dan +15% akan berkembang menjadi sirosis. Penatalaksanaan PHNA tidak ditargetkan pada hepar saja, melainkan harus holistik, berpusat pada perbaikan resistensi insulin dan gangguan metabolisme terkait, yang dimulai dengan modifikasi gaya hidup. Berat badan harus diturunkan secara bertahap.Vitamin E dan asam ursodeoksikolat diberikan karena dapat menurunkan ALT. Metformin dan/atau rosiglitazone dapat diberikan pada pasien tanpa diabetes yang nyata, karena obat-obat ini tidak menyebabkan hipoglikemia, dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Perburukan fungsi hati juga harus dicegah dengan menghindari zat-zat hepatotoksik.
Obesitas sentral, sindroma metabolik dan diabetes melitus tipe dua
Sudah diketahui secara luas bahwa seseorang dengan obesitas mempunyai risiko tinggi untuk mengalami resistensi insulin dan komplikasi metaboliknya seperti diabetes melitus tipe 2 (T2DM), hipertrigliseridemia, penurunan kolesterol high density lipoprotein, hipertensi dan penyakit kardiovaskuler. Akumulasi jaringan adiposa pada bagian tertentu di tubuh seperti di rongga perut menyebabkan peningkatan risiko terjadinya resistensi insulin sampai terjadinya sindroma metabolik. Sindroma metabolik merupakan suatu abnormalitas metabolik yang melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan serta merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner yang paling penting pada populasi modern. Pengaturan produksi adipositokin berperan penting pada homeostasis metabolisme glukosa dan lipid. Disregulasi produksi adipositokin pada obesitas sentral terlibat langsung pada patogenesis sindroma metabolik. Penurunan berat badan atau pencegahan peningkatan berat badan merupakan cara terbaik mencegah terjadinya obesitas terutama obesitas sentral yang juga merupakan suatu cara mencegah terjadinya T2DM. Edukasi mengenai komplikasi obesitas dan keterlibatan keluarga dalam pengobatan T2DM sangat penting.
Hubungan antara status kesehatan mulut dan kualitas hidup pada lanjut usia
LATAR BELAKANG
Proporsi lanjut usia bertambah lebih cepat dibandingkan dengan kelompok usia lain terutama di negara yang sedang berkembang, dan usia harapan hidup juga meningkat. Kesehatan mulut yang buruk berdampak negatif terhadap kualitas hidup pada usia lanjut, dan membutuhkan program kesehatan mulut secara intensif. METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan potong silang dan dilaksanakan di kelurahan Cideng, Tomang, dan Jati Pulo. Tigaratus enampuluh delapan lanjut usia (umur > 60), mampu berjalan, mampu berkomunikasi, bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini dambil sebagai sampel. Informasi tentang umur, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, status sosio-ekonomi (penghasilan), dan kualitas hidup telah dikumpulkan oleh 6 orang pewawancara yang sudah dilatih. Status kesehatan mulut dikumpulkan melalui pemeriksaan gigi-mulut oleh 3 orang dokter gigi.
HASIL
Indeks kesehatan gigi (DMFT) rata-rata pada lanjut usia > 70 adalah 15,57 + 10,36, lebih tinggi dibandingkan dengan usia < 70 (12,31 + 9,72). DMFT berhubungan lemah secara bermakna dengan domain persahabatan dan cinta kasih (intimacy) (domain 6) (r=0,151; p<0,05) dan kualitas hidup secara keseluruhan (r=0,135; p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kesehatan gigi dan mulut dengan setiap domain kualitas hidup pada lansia.
KESIMPULAN
Berdasarkan tingginya indeks DMFT pada lanjut usia yang berdampak negatif terhadap kualitas hidup, maka diperlukan intervensi yang bertujuan memperbaiki kesehatan mulut.
Perbedaan asupan dan status seng antara laki-laki dan perempuan lanjut usia di komunitas Jakarta Selatan
Latar Belakang
Risiko terjadinya defisiensi seng pada lanjut usia (lansia) lebih besar dibandingkan usia dewasa muda. Keadaan ini direfleksikan oleh rendahnya asupan dan absorpsi seng pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk membedakan asupan dan status seng antara lansia laki-laki dan perempuan.
Metode
Sebanyak 89 lansia berusia 60 tahun ke atas berbadan sehat dan mampu melakukan aktifitas secara mandiri diikut sertakan pada studi yang menggunakan rancangan potong silang (cross-sectional). Asupan energi total dan kadar seng diukur menggunakan catatan diet selama dua hari berturut-turut. Pengukuran ini dikombinasi dengan semi-quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ) dan model makanan. Kadar seng dalam serum diukur menggunakan atomic absorption spectrum photometry.
Hasil
Rata-rata kadar seng dalam serum pada lansia perempuan (13,7 µmo/l) tidak berbeda bermakna dengan lansia laki-laki (13,9 µmo/l). Asupan energi total dan kadar seng dalam serum lebih rendah dibandingkan dari jumlah yang dianjurkan baik pada lansia laki-laki maupun perempuan. Sebagian besar asupan seng besarnya duapertiga lebih rendah dari angka kecukupan gizi (AKG), asupan seng pada lansia laki-laki lebih rendah dibandingkan lansia wanita. Secara keseluruhan prevalensi defisiensi seng di antara komunitas lansia di Jakarta Selatan adalah rendah.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkkan prevalensi defisiensi seng yang relatif rendah. Asupan dan status seng lebih rendah pada lansia perempuan dibandingkan lansia laki-laki.
Manifestasi klinis infeksi saluran nafas atas pada anak di Pusat Kesehatan Masyarakat Kalideres, Jakarta Barat
LATAR BELAKANG
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan angka kejadian infeksi saluran nafas atas (ISNA) di Indonesia adalah tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manifestasi klinis ISNA serta bakteri usap tenggorok berikut uji sensitivitasnya.
METODE
Penelitian potong lintang dilakukan pada seratus pasien anak di Puskesmas Kalideres, Jakarta Barat, dengan keluhan ISNA berupa panas, batuk dan atau pilek. Dilakukan pengumpulan data demografi, temuan fisik, laboratorium darah, biakan dan hasil uji sensitivitas.
HASIL
Kejadian ISNA pada anak terdapat lebih banyak pada anak laki, usia lebih muda, keluarga perokok, pendidikan rendah, kondisi ekonomi kurang, dan lingkungan berdebu. Keluhan dan temuan fisik adalah demam, batuk, pilek, anoreksi, muntah, diare, sesak nafas, dan kejang. Manifestasi ISNA meliputi rinofaringitis (52%), faringitis (18%), rinitis (12%), tonsilofaringitis (10%) dan tonsilitis (8%). Penyakit penyulit dan penyerta antara lain otitis media, pneumonia, gizi-kurang, dan anemia. Hasil biakan menunjukkan S. aureus terdapat lebih banyak pada anak laki dari perempuan (p<0,01), sedang S. aureus, S. â hemolitikus, dan K. difteri terdapat lebih banyak pada usia prasekolah (p<0.01). Sebaliknya K. pneumonia ditemukan lebih banyak pada bayi (p<0,01). S. aureus dan S. â hemolitikus didapatkan lebih banyak pada anak gizi kurang, sedang K. pneumonia dan K difteri lebih banyak pada anak gizi baik (p<0.01). Kuman memperlihatkan tingkat intermediate dan resisten terhadap 14 jenis antibiotik yang diuji.
Kesimpulan
Manifestasi klinis ISNA terbanyak adalah rinofaringitis (52%), faringitis (18%), rinitis (12%), tonsilofaringitis (10%) dan tonsilitis (8%).
Studi kasus: Stroke iskemik dengan infark luas pada pasien laki-laki muda dengan stenosis mitral berat
Latar belakang
Meskipun terdapat kecenderungan peningkatan insidens stroke pada usia dewasa muda, namun tetap lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan usia pertengahan dan usia yang lebih tua. Penyebab stroke iskemik pada pasien-pasien usia muda lebih heterogen dibandingkan dengan pasien-pasien yang lebih tua.
Deskripsi kasus
Kami melaporkan sebuah kasus, seorang laki-laki berusia 39 tahun yang mengalami kejang-kejang selama kurang lebih 30 menit dan terjadi kira-kira 1 jam sebelum pasien tersebut dibawa ke rumah sakit. Dan pada saat itu pasien dalam keadaan somnolen, hasil pemeriksaan dengan pencitraan tomografi komputer kepala (brain CT Scan) saat itu tidak menunjukkan adanya infark. Akan tetapi 12 jam kemudian, dilakukan pemeriksaan pencitraan tomografi komputer kepala yang kedua, ternyata menunjukkan adanya infark yang luas di hemisfer kanan. Pada pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan adanya pelebaran atrium kiri, stenosis mitral pada katup-katup mitral, dengan luas area 0,94 cm2 dan skor mitral 14. Elektro kardiografi (EKG) menunjukkan sinus ritmik.
Kesimpulan
Pasien tersebut di atas memiliki masalah besar dengan jantungnya dan menyebabkan terjadinya oklusi pada pembuluh darah di otak (pemeriksaan dengan pencitraan tomografi komputer kepala yang kedua menunjukkan adanya infark yang luas). Pasien tersebut akhirnya meninggal setelah menjalani perawatan selama 6 hari di rumah sakit. Prognosis seorang berusia muda dengan kelainan mitral bila menderita stroke iskemik tidak begitu baik.
Peran pertanda tulang dalam serum
Osteoporosis adalah kelainan tulang yang kronik progresif akibat berkurangnya massa dan kekuatan tulang sehingga menjadi predisposisi meningkatnya risiko fraktur. Pertanda tulang dapat memberikan gambaran proses remodelling yang sedang terjadi. Pemeriksaan ini meliputi pertanda resorpsi tulang yang dilakukan oleh osteoklas dan pertanda formasi tulang yang dilakukan oleh osteoblas. Diagnosis untuk osteoporosis yang dianggap baku adalah pemeriksaan bone mass density (BMD) tetapi BMD tidak dipakai untuk monitoring pengobatan karena membutuhkan waktu lama (2 tahun) untuk melihat perbedaan gambaran massa tulang. Analisis pertanda tulang dapat memberikan gambaran proses remodeling yang sedang terjadi dalam waktu yang lebih singkat (3 – 6 bulan). Artinya analisis pertanda tulang dapat memantau dan menilai respons pengobatan, prognosis penderita dengan risiko osteoporosis, mencari penyebab berkurangnya tulang secara cepat, memilih pengobatan yang sesuai, memantau pasien dengan pengobatan kortikosteroid dan mempelajari patogenesis osteoporosis. Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa analisis pertanda tulang seperti alkaline phosphatase (ALP), osteocalcin, P1-NP dan ß-CrossLaps dan kegunaannya pada tatalaksana osteoporosis.
Kata kunci: Osteoporosis, pertanda tulang, osteocalcin, P1-NP dan ß-CrossLaps
Penatalaksanaan tuberkulosis pada kehamilan
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia demikian juga tuberkulosis pada kehamilan. Insidens tuberkulosis pada kehamilan makin meningkat. Tuberkulosis pada kehamilan mempunyai gejala klinis yang serupa dengan tuberkulosis pada wanita tidak hamil. Diagnosis mungkin ditegakkan terlambat karena gejala awal yang tidak khas. Tuberkulosis tidak mempengaruhi kehamilan dan kehamilan tidak mempengaruhi manifestasi klinis dan progesivitas penyakit bila diterapi dengan regimen kemoterapi yang tepat dan adekuat. Pemberian regimen yang tepat dan adekuat ini akan memperbaiki kualitas hidup ibu, mengurangi efek samping obat-obat tuberkulosis terhadap janin dan mencegah infeksi yang terjadi pada bayi yang baru lahir. Obat anti tuberkulosis yang diberikan dibagi dalam 2 golongan yaitu obat lini pertama dan lini kedua. Obat lini pertama, kecuali Streptomisin dapat digunakan pada tuberkulosis pada kehamilan. Penggunaan streptomisin dan obat lini kedua (kanamisin, etionamid, kapreomisin) sebaiknya dihindari pada wanita hamil karena efek samping yang akan terjadi pada janin, kecuali dalam keadaan resistensi beberapa obat. Kata kunci : Tuberkulosis, kehamilan, obat antituberkulosis
Nyeri muskuloskeletal pada leher pekerja
Nyeri leher pada pekerja pada umumnya lebih sering disebabkan oleh gangguan muskuloskletal di mana terjadi ketegangan dan peregangan otot dan ligamentum sekitar leher. Sebuah studi menunjukkan prevalensi nyeri muskuloskeletal pada leher di masyarakat selama satu tahun besarnya 40% dan prevalensi ini lebih tinggi pada wanita. Beberapa pekerjaan yang dapat memicu terjadinya nyeri leher antara lain bekerja dengan komputer dalam waktu yang lama atau bekerja di depan meja dengan posisi membungkuk dalam waktu lama. Mengangkat, mendorong atau membawa barang, penari, dan pengemudi angkutan umum. Gejala-gejala nyeri leher antara lain terasa sakit di daerah leher dan kaku, nyeri otot-otot leher, sakit kepala, dan migraine. Nyeri bisa menjalar ke bahu, lengan, dan tangan disertai keluhan terasa baal atau seperti ditusuk jarum selain itu nyeri juga bisa menjalar ke kepala menyebabkan rasa sakit kepala. Kebanyakan kasus nyeri leher dapat mengalami perbaikan dengan sendirinya. Hal yang penting bagi pekerja yang mengalami nyeri leher adalah modifikasi pekerjaan termasuk manajemen administrasi dan pengaturan ergonomik.Kata kunci: Nyeri leher, posisi statik, faktor risiko, pekerja
Prediksi ekson DNA-gen Plasmodium falciparum berdasarkan struktur coding sequence dengan menggunakan model hidden Markov
LATAR BELAKANG
Sebuah hidden Markov model (HMM) yang digunakan untuk memprediksi ekson gen DNA Palsmodium falciparum mempunyai struktur model berdasarkan struktur gen DNA pada coding sequence (CDS). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah model stuktur baru untuk prediksi ekson gen DNA Plasmodium falciparum berdasarkan struktur CDS dengan menggunakan sistem HMM.
METODE
Rancangan model pada CDS, di antara dua lokasi ekson dapat diketahui sebuah lokasi intron dan jumlah state model dapat dilakukan pada lokasi tersebut. Jumlah state dilakukan dengan memisahkan codon start dari ekson pertama dan codon stop dari ekson terakhir hingga mencapai 9. Algoritma Viterbi dan metode backward-forward transisi state serta emisi state digunakan untuk proses training. Sedangkan untuk proses testing menggunakan algoritma Viterbi dan Baum-Welch. Sebagai kinerja model digunakan Correlation Coefficient (CC) yang didapat dari perbandingan state estimasi pada output dan state asli pada input model.
HASIL
Hasil simulasi menunjukkan bahwa nilai CC tergantung pada pemberian nilai acak state transisi backward-forward. Model dengan jumlah state 9, menunjukkan nilai CC rata-rata tertinggi adalah 0,7289 untuk algoritma Viterbi dan 0,7166 untuk algoritma Baum-Welch.
KESIMPULAN
Struktur model berdasarkan sistem HMM sahih untuk memprediksi ekson gen DNA Plamodium falciparum Kata kunci : Prediksi ekson, gen-DNA, coding sequence, model hidden Markov
